15 Sep 2010

Cerita Inspirasi II

Author: anisa.fauzia10 | Filed under: Academic

Cerita ini terinspirasi dari seorang Ibu yang tetap tegar apapun masalah,cobaan,tantangan hidup menerjang. Beliau tetap dan hanya merintih dan menangis pada Allah SWT. Beliau tak lain adalah Ibu yang telah melahirkan saya.
Beliau adalah sosok yang patut saya teladani. Saat semua masalah keluarga. Hanya Ibu yang saya yang dapat mengemban beban itu. Saat saya sibuk menyelesaikan sekolah menengah saya, Ibu saya yang tetap mendengar keluh kesah, Saat saya mengeluh dan meminta semua pembayaran semua Ibu saya berikan tanpa memikirkan kedua kali, saat saya sibuk kuliah pun hanya Ibu saya yang tetap sibuk memikirkan semua kebutuhan saya.
Saya ingin sekali menjadi manusia mampu bertahan dalam keadaan apapun seperti Ibu saya :)

15 Sep 2010

Cerita Inspirasi I

Author: anisa.fauzia10 | Filed under: Academic

ANISA HASBY FAUZIA

B04100081

LASKAR 5

1. CERITA INSPIRASI I (diri sendiri)
Ini adalah sebuah cerita yang diangkat dari pengalaman saya sendiri. Cerita ini bermula saat saya mulai mendapat tawaran untuk mendaftar jalur PMDK IPB. IPB adalah universitas yang pertam kali membuka pendaftaran jalur PMDK. Ibu saya pun menyuruh saya untuk mencobanya. Saat itu, saya mengambil formulir sehari sebelum formulir itu di kumpulkan . Saya saya sangat kerepotan mengurusi semua persyaratan dan malamnya saya menangis karena ada surat-surat yang hilang, saya memutuskan untuk mengembalikan dan tidak akan mengumpulkan formulir itu. Tapi ibu saya, tetap memotivasi dan terus memarahi saya mengapa begitu lekas menyerah. Keesokannya saya masih kebingungan ketika teman-teman saya sudah selesai mengumpulkan, hanya saya yang blum menyelesaikan. Siangnya, saya selesai juga mengumpulkan formulir itu.
Setelah itu, malamnya saya berdoa agar Tuhan mengabulkan doa saya dan mengabulkan agar dapat sedikit saja membahagiakan orangtua saya melalui formulir IPB itu. Saya benar-benar meminta pada Tuhan. Dan saya pun melihat Ibunda saya berdoa untuk anak-anaknya. Bahlan tetesan air mata kepesimisan saya, saya curahkan lewat doa .
Awal Februari,tepat tanggal 6. Saya masih tertawa dan berbincang-bincang dengan teman-teman sekelas lalu datanglah kabar penerimaan mahasiswa PMDK IPB. Dan saya termasuk salah seorang yng masuk. Teman disebelah saya memeluk dan saya benar-benar berteriak seketika. Rasanya mimpi dan saya merasa ini semua jawaban dari Tuhan. Saya langsung menelpon Ibu saya. Saya menangis karena saya masuk di jurusan yangsaya inginkan pula. Hingga akhirnya saya kuliah di IPB sekarang
Inilah kisah saya dan saya sangat memahami betul bahwa kekuatan doa itu sangatlah penting. Apalagi dengan Ridho orangtua. Tuhan pun akan meridhai.

Isu pasar bebas tidak hanya menghantui dunia ekonomi dan bisnis di Indonesia, namun ternyata juga cukup mengganggu “adem ayem-nya” dunia kedokteran hewan di Indonesia. Banyak orang bilang akan ada banyak dokter hewan luar negeri datang dan “kita” tidak akan bisa bersaing dengan mereka, benarkah ?

Apakah sebegitu parahnya kualitas dokter hewan Indonesia sehingga kita perlu “takut tersaingi”?

Begitu hebatkah dokter hewan “luar negeri” sehingga kita perlu khawatir “ga’ kebagian rejeki”?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul tidak lain adalah mungkin karena adanya tanda-tanda keraguan tentang kualitas dokter hewan “lulusan Indonesia”, mungkin karena ketidaktahuan informasi kemajuan dunia pendidikan kedokteran hewan di Indonesia (jika memang mangalami kemajuan) atau mungkin kesadaran diri akan kemampuan dan keahlian.

Salah seorang redaksi Koran PDHI ini memiliki pengalaman ketika berada di New Zealand beberapa waktu yang lalu. Menurutnya, saat ini tidak ada dokter hewan Indonesia yang punya kesempatan untuk berpraktek (secara normal dan legal) di New Zealand meskipun kenyataannya New Zealand masih membutuhkan dokter hewan dalam jumlah yang cukup besar untuk mengcover seluruh New Zealand. Kalaupun ditemukan terdapat dokter hewan yang bekerja di New Zealand, dia dapat melakukan pekerjaan secara sangat terbatas, tidak bisa “sebebas” dan “seleluasa” dokter hewan pada umumnya meskipun (mungkin) dia bisa melakukan pekerjaan medis seperti dokter hewan New Zealand yang lain. Salah satu sebab utamanya adalah karena kualifikasi dokter hewan Indonesia tidak dikenal di New Zealand dan akhirnya ijin praktek tidak bisa diberikan untuk dokter hewan lulusan Indonesia.

Ironis, kan? di satu sisi kita takut akan datangnya pasar bebas dan dokter hewan “luar negeri” yang akan membanjiri Indonesia dan di sisi lain kita juga takut karena kita -dokter hewan Indonesia- tidak bisa “ikut-ikutan menjajah” negeri lain. Kebanyakan komentar yang dikeluarkan adalah kekhawatiran akan ketidakmampuan kita untuk “bersaing”.

Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu kekhawatiran tersebut berpulang pada bagaimana pendidikan tinggi dokter hewan menyiapkan tenaga medis veteriner di Indonesia serta dukungan berbagai pihak akan hal ini. Sehingga pertanyaan yang perlu dan segera mendapat jawaban adalah apakah pendidikan kedokteran hewan di Indonesia memang benar-benar disiapkan untuk mencetak “Dokter Hewan” ? Jika jawabannya ya, pertanyaan berikutnya adalah, “Dokter Hewan seperti apa yang ingin dicetak oleh pendidikan tinggi kedokteran hewan di Indonesia? ” Tidak berhenti disitu, pertanyaan yang lain adalah, “apakah kita serius ingin mencetak Dokter Hewan di Indoesia?” dan “Apa yang sedang terjadi pada Dokter Hewan di Indonesia?”.

Permasalahan ini tidak sederhana dan wajar diajukan karena umur pendidikan tinggi kedokteran hewan di Indonesia sudah mencapai lebih dari 100 tahun. Waktu yang lebih dari cukup untuk mengevaluasi kiprahnya dalam mempengaruhi dunia veteriner di Indonesia. Sebagai bahan pemikiran, mari kita ingat kembali saat dilaksanakannya Pengambilan Sumpah Dokter Hewan (PSDH). Kita bangga dan senang karena diumumkan bahwa hampir semua dokter hewan yang disumpah pada saat itu sudah bekerja. Kemudian diumumkan pula bahwa hanya sedikit persen saja yang benar-benar bekerja sebagai “dokter hewan”, benar? Ironis, bukan?

Sebagian besar dokter hewan yang dihasilkan tidak bekerja sebagai “dokter hewan sebenarnya”. Mungkin karena tidak ada lapangan pekerjaan untuk “seorang dokter hewan” atau mungkin dokter hewan tidak ingin bekerja sebagai “dokter hewan” karena tidak cukup menarik untuk menjadi dokter hewan?

Dalam edisi ini dan edisi berikutnya, kami akan berusaha menampilkan profil beberapa perguruan tinggi di Indonesia tempat tercetaknya dokter hewan di Indonesia. Semoga membantu dan menjadi bahan pemikiran serta renungan. Selamat membaca!

http://koranpdhi.com/buletin-edisi5/edisi5-pendidikan.htm

bit torrents lotus karls mortgage calculator mortgage calculator uk Original premium news theme